Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Ternyata..!! Semakin Benci Uang, Semakin Kaya. Kok Bisa?

cara cepat kaya dengan bisnis properti

Mungkin kita berfikir bahwa orang kaya memiliki banyak uang di brangkas atau di rekening bank-bank tempat mereka menyimpan uang. Padahal pada faktanya, mereka yang super kaya justru menyimpan uang hanya sekedarnya saja. Ini menarik!

Mereka yang super kaya tidak selamanya mencari uang. Mereka sangat lihai dalam mengelola uang. Mengubah uang menjadi asset produktif. Dan akhirnya uanglah yang bekerja untuk mereka.

Apa artinya asset produktif?

Asset yang nilainya semakin hari semakin bertambah. Asset yang sangat minim tergerus inflasi. 

Cara Menjadi Kaya adalah dengan menabung Di Properti, bukan menyimpan uang dalam bentuk deposito, emas atau digunakan untuk modal bisnis baru. Beli Rumah pasti LEBIH MENGUNTUNGKAN karena harga Properti PASTI NAIK TERUS.

Melihat Faktanya:

1. Bunga Deposito Sekitar 7%'an Per Tahun. 
2. Inflasi 10%'an Per Tahun 
3. Harga emas bisa naik dan turun. Harga dikendalikan oleh Inggris.
4. Bisnis perlu usaha keras, dan dalam perjalanannya sangat rentan dengan kebangkrutan. 

Berarti, menabung uang di bank pasti rugi karena nilai uang makin lama makin turun (tergerus inflasi). 

Lebih baik menabung di properti yang nilainya makin lama makin naik. Bahkan keuntungan yang didapatkan lebih baik 6X lipat dari bunga deposito.

Orang-orang kaya menjadi semakin super kaya karena mengubah uangnya kepada asset yang nilainya terus bertumbuh. Mereka nampak sangat 'membenci' uang cash. Hanya menyimpan sekedarnya saja untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Selebihnya mereka berinvestasi properti. Rajin mencari peluang investasi potensial dan memperbanyak asset produktif. Dalam bahasa lain, cara seperti ini lazimnya disebut dengan beternak uang.

Yes! Mereka yang super kaya sudah tidak lagi sibuk berburu uang. Melainkan sudah sibuk beternak uang.

Lalu pertanyaannya, apakah saat ini kita masih sibuk mencari uang?

Bagaimana dengan kita yang belum mampu membeli asset produktif? Karena memang kita tidak bisa menutup mata bahwa harga properti sangatlah tinggi. 

Arcadia Boutique Regency adalah Perumahan Cantik berkonsep Resort International dengan Pemandangan Indah Sejuk di Wilayah Bandung Timur.

Menariknya, Arcadia membuka kesempatan peluang investasi untuk kelas menengah ke bawah. Dengan sistem pembayaran termurah dari KPR manapun. Sangat mudah dan anti ribet tanpa BI checking.

Anda bisa mempelajari informasi lengkapnya disini http://arcadiaregency.co

Terima kasih, semoga informasi ini memberikan inspirasi dan manfaat untuk Anda. 

Baca Juga: 3 Pilihan Sistem Bisnis untuk Anda yang Minim Modal

Si Nenek Tua Penggali Mutiara

nenek tua pekerja keras motivasi bisnis

Alkisah..
Suatu hari ada seorang nenek tua berjalan tertatih menaiki bukit sambil memanggul barang bawaan. 
Melintaslah seorang pemuda, yang masih kekar hendak menuju arah yang sama, keatas bukit.

Karena langkah si nenek lambat, akhirnya si pemuda menawarkan bantuan untuk memanggul barang bawaannya.

Pemuda: "Nek, biar aku bantu bawa yaa"
Nenek: "Terima kasih nak, siapa namamu dan hendak kemana?"
Pemuda: "Nama saya Darto Nek... Saya ingin keatas bukit mengambil buah pisang, untuk kemudian saya jual ke pasar. Butuh biaya untuk pengobatan ibu saya Nek"
Nenek: "Memangnya kenapa ibumu?"
Pemuda: "Sudah 1 tahun ibu saya lumpuh, dan saya perlu biaya untuk berobat"
Mendengar cerita pemuda tersebut, si Nenek menghentikan langkah sejenak sambil bersandar di bebatuan.
Nenek: "Nak, coba kau buka isi keranjang yang dipanggulmu itu"
Lalu si Pemuda tadi membuka tutup keranjang yang dipanggulnya, dan betapa terkejutnya dia. Karena isi di dalamnya adalah butiran mutiara.
Pemuda: "MasyaAllah... banyak sekali nek, mutiara ini dapat dari mana?"
Nenek: "Aku akan ceritakan padamu setelah sampai di gubuk saya disana" sambil menunjuk keatas yang jaraknya tidak jauh lagi.

Lalu si nenek melanjutkan perjalanan dan si pemuda tadi mempercepat langkahnya, berharap segera sampai dan mendengarkan ceritanya.
Sambil berjalan, rupanya terbesit dalam hati si Pemuda untuk meminta saja barang dua atau tiga bongkah mutiara tadi. Dalam hatinya, pasti si Nenek berkenan. Karena toh masih banyak miliknya di dalam keranjang.
Akhirnya sampailah di gubuk tua tempat si Nenek tinggal. Si pemuda semakin terkejut ketika melihat didalam gubuk tersebut ada banyak sekali mutiara dan berlian.

Nenek: "Simpan keranjangnya disana nak, dan ini minumlah air putih ini. Maaf nenek tidak punya makanan untuk kamu"
Pemuda: "Tidak apa-apa nek, seandainya nenek memberi saya dua butir saja mutiara ini saya sudah sangat senang sekali nek"
Nenek: "Kenapa cuma dua? Saya masih punya banyak... Bawalah semua mutiara yang ada di dalam keranjang itu"
Pemuda: "Serius nek?? Itu semuanya buat saya???" Dengan nada setengah berteriak karena terkejut.
Nenek: "Ya, bawalah. Jual dan gunakan uangnya untuk membawa ibumu berobat"

Bukan main senangnya Pemuda tadi. Belum sempat si Nenek bercerita tentang bagaimana memperolehnya dia sudah bergegas kembali turun bukit menuju rumahnya. Bermaksud memberi kabar bahagia kepada ibunya yang sedang sakit.
Setelah itu dia bergegas ke pasar, menjual semua mutiaranya. Hasilnya luar biasa, dia mendapatkan banyak uang dalam waktu instant. Bukan saja cukup untuk berobat ibunya, tapi bisa untuk membangun rumah, dan membeli sawah. Hingga meminang sang wanita pujaan hati dan menikahinya.

Berselang 3 bulan lamanya, si pemuda menikmati hidup mewah yang diperolehnya secara instant. Hingga tak sadar uangnya semakin menipis dan hampir habis. Sawah yang dibelinya sudah dijual untuk kebutuhan hidup.
Hingga uangnya benar-benar hampir habis, barulah teringat kembali si pemuda dengan si nenek pemberinya mutiara. Dia kembali naik ke bukit untuk menemui si nenek hendak meminta lagi...

Namun... sesampainya di gubuk si nenek. Dia tidak menemukan apapun, pintu gubuk terbuka. Dan didalamnya sudah tidak ada mutiara yang tempo hari diliatnya bertumpuk.
Ditatapnya lagi setiap pojokan gubuk, berharap ada mutiara tertinggal. Namun semuanya sia-sia..
Si Nenek sudah tidak tinggal di gubuk lagi..

Si Pemuda menyesal.. Mengapa saat bertemu dulu tidak bertanya kepada si Nenek, darimana mendapatkan berlian itu. Padahal si Nenek sempat menawarkan ingin menceritakan kepadanya.
Namun karena nafsunya dan terlalu bahagia saat itu, dia lupa mendengarkan ceritanya.
Padahal andai dia mengetahui dari mana mutiara itu didapatkan tentulah sekarang diapun bisa mencarinya sendiri.

Sobatpreneur....
Mulailah tancapkan mental pembelajar yang kuat dalam benak kita.
Jangan mendambakan hasil instant. Apalagi bermimpi bisa menggandakan uang. Silahkan bertanya proses, karena itu akan membuat kita jadi terus belajar. Bukan meminta hasil..yang hanya membuat mental kita menjadi "cengeng"..
Karena dalam mengembangkan bisnis, ukuran utamanya bukanlah seberapa banyak omset Anda, melainkan sebarapa banyak Anda sudah berkembang dan bertumbuh secara pengalaman.
Jangan cepat MENGELUH, karena itu hanya akan membuat otak kreatif Anda semakin LUMPUH.
Semakin Anda banyak tahu, semakin mudah Anda berkembang. Omsetpun pasti mengikuti dengan sendirinya. Yes! Sesuai dengan kompetensi diri Anda.
Belajar terus, praktek terus.. Tidak ada seorangpun yang bisa menentukan kesuksesan Anda kecuali diri Anda sendiri. Karena setiap orang sibuk dengan memperjuangkan cita-citanya masing-masing

PS: Follow instagram saya : @onino99

Anda Pedagang atau Pebisnis? Tahu Bedanya?

bedanya pengusaha dan pedagang

Anda mungkin pernah bertanya-tanya apa yang membedakan antara pedagang dengan pebisnis (pengusaha).

Dalam sebuah video promosi kopdar YukBisnis 2015, Mas Jaya Setiabudi menjelaskan secara singkat mengenai perbedaan pedagang dan pebisnis. Jika diibaratkan, pedagang adalah pemburu, dan pebisnis adalah peternak.

Seorang pemburu akan bekerja dalam jangka pendek. Dia akan berburu setiap hari untuk mendapatkan hasil. Sedangkan seorang peternak bekerja dalam jangka panjang. Membangun sistem dan mengembangbiakkan hewan ternak.

Tentu saja pekerjaan seorang peternak setiap harinya akan menjadi semakin menjadi mudah dan ringan. Namun dengan hasil yang semakin besar dan berlimpah. Sedangkan pemburu, akan bekerja setiap hari sama kerasnya dengan hasil yang sama juga.

Seorang pebisnis merencanakan brand building. Mengumpulkan database pelanggan dan melakukan komunikasi intensif yang mengarah kepada brand positioning, brand image dan brand loyaliti.


Tahukah Anda?

"Dibutuhkan budget marketing 6x lipat untuk menjual sebuah produk kepada calon pembeli, dibandingkan kepada pelanggan setia Anda" - Jay Conrad Levinson (Guerrilla Marketing)

Artinya apa?

Database konsumen adalah bagian dari asset marketing yang paling berharga. Hal ini juga yang membuat Anda semakin mudah Anda untuk membedakan antara pedagang dan pebisnis.

Seorang pedagang martabak hampir-hampir tidak pernah menanyakan no Hp maupun kontak BBM pembelinya bukan?

Namun bagi seorang pebisnis, database adalah modal utama untuk mengikat calon pembeli. Mengkonversi dari prospek menjadi buyer hingga akhirnya menjadi pelanggan setia (konsumer).

Baca juga: Teknik Merngubah Prospek Menjadi Buyer Hingga Menjadi Konsumer

Dalam bentuk apa databasenya?

1. No Hp
2. Kontak BBM
3. Email

Setelah Anda memiliki database tadi, berikutnya adalah melakukan maintenance terhadap mereka. Melalui fasilitas broadcast. (sms gateway, Broadcast BBM, email blast)

Saya pernah membahas salah satu dari ketiga database diatas, yaitu optimalisasi kontak BBM sebagai media pemasaran murah dan mudah.

Bagi Anda yang ingin membacanya, silahkan klik dua link di bawah ini:


Sekian dulu pembahasan artikel kali ini. Untuk penggunaan SMS dan Email, tunggu saja yaa.. akan saya bahas selanjutnya di blog ini.

Jadi, apakah sekarang sudah bisa disimpulkan, Anda pebisnis atau pedagang?

Mau ngobrol di twitter? follow @onino99

Jangan Salah Menyikapi Kesalahan

berdoa dan menangis

Kesalahan sudah menjadi bagian dari sifat manusia. Tak ada satu manusia pun yang tidak pernah salah di dunia fana ini. Berbuat kesalahan bukanlah akhir dari rangkaian kisah hidup Anda, sekalipun kesalahan itu teramat besar. Dalam menghadapi kesalahan tak sedikit orang yang akhirnya berputus asa, depresi bahkan sampai nekat memilih mengakhiri hidupnya di dunia.

Pada jaman Rasullullah, diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Ada seorang lelaki tua yang menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan. Kemudian lelaki tua tadi pergi menghadap Rasul dengan rasa berdosa. Rasul memberikan solusi padanya untuk memerdekakan seorang budak. Mendengar anjuran Rasul tadi, Lelaki tua itu tidak bisa menyanggupi untuk membayar biaya pembebasan budak.

Kemudian Rasul memberikan alternatif kedua, yaitu puasa dua bulan berturut-turut. Namun karena kondisinya yang sudah tua, hampir tidak mungkin baginya untuk berpuasa selama itu. Hingga akhirnya Rasul memberikan alternatif ketiga, memberi makan enam puluh orang miskin. Dan ternyata, pilihan terakhir ini pun sangat sulit bagi dirinya. Mengingat kondisi lelaki tua itu sangat miskin.

Rasulullah kemudian terdiam sejenak hingga datanglah seseorang yang memberikan sekantung kurma. Kemudian Rasul memerintahkan lelaki tua tadi untuk menyedekahkan kurma tersebut kepada orang miskin disekitarnya. Namun tanpa disangka, ternyata lelaki tua itu tidak mendapatkan orang yang lebih miskin darinya. Spontan Rasul pun tertawa hingga terlihat giginya kemudian ia memerintahkan pemuda tadi untuk memberi makan kurma itu pada keluarganya.

Nampak jelas sekali Rasulullah tidak menyikapi kesalahan lelaki tua tersebut dengan emosional atau perlakuan yang tidak menyenangkan. Bahkan sebaliknya, beliau tetap menunjukkan kasih sayangnya kepada hamba yang mau bertobat. Sekalipun kesalahan yang diperbuatnya dilakukan secara sengaja.

Lalu bagaimana dengan kita selaku umatnya?
Terlebih lagi menyikapi kesalahan yang kita perbuat sendiri?

Dalam surat Asy-Syura ayat 30, menjelaskan “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahanmu).

Ayat ini bisa menjadi pegangan bagi kita ketika melakukan kesalahan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa setiap kesalahan terjadi bukan tanpa sebab. Dan sebab itu tiada lain dikarenakan ulah kita sendiri. Kecerobohan dan kelalaian kita pada masa lampau, mengantarkan kita pada pertemuan masalah di hari ini. Maka segera kita sadar diri, dan memohon ampun (taubat) kepada Allah. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi kita untuk memaafkan diri sendiri.

Kedua. Masalah datang untuk dihadapi, bukan dihindari. Lakukan segera upaya-upaya yang membawa kita kepada proses penyelesaian. Berbesar hati meminta maaf merupakan tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang berjiwa ksatria. Adapun diterima atau tidaknya permintaan maaf kita bukanlah urusan kita.

Jka kita menunda untuk meminta maaf hanya akan membuat hati kita gelisah lebih lama, tidak tenang dan selalu gundah. Perasaan bersalah akan selalu membayangi. Memendam rasa bersalah membuat kita stress, membuat perilaku dan perkataan kita kurang terkontrol, hingga pada akhirnya dapat mengganggu kesehatan kita, baik lahir maupun batin. Apapun resikonya, kita harus berani meminta maaf atas segala kesalahan kita kepada orang lain. Dengan hati tegar dan ikhlas mari kita paksakan langkahkan kaki untuk meminta maaf.

Coba perhatikan hadist di bawah ini:

“Tidak halal seorang muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (Riwayat Abu Daud).

Jangan salah menyikapi kesalahan. Setiap peristiwa yang terjadi adalah momentum bagi kita untuk belajar lebih bijak. Allah Maha Tau segala cara dalam menegur hamba-Nya, termasuk salah satunya dengan dihadapkannya kita terhadap kesalahan. Semoga kita semua termasuk kepada golongan orang-orang yang ringan meminta maaf dan mudah dalam memberi maaf.

Follow twitter saya @onino99

Merintis Usaha Dari Nol Itu Sulit, Terlalu Banyak 'Anjing' di Perjalanan


kondisi UMKM indonesia terbaru tahun ini
Saat ini di Indonesia, merintis usaha dari nol itu bukan saja sulit tapi juga menyeramkan. Anda harus menguji nyali berjalan sendiri di jalan setapak dan gelap gulita, sementara vampir-vampir penghisap darah bergentayangan kehausan. Celakanya, Anda tidak bisa melambaikan tangan ke kamera untuk meminta bantuan.

Saya sepakat bahwasanya kunci kemajuan suatu negara adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi yang mandiri. Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengatakan, untuk menjadi negara yang sukses harus didukung dengan jumlah wirausaha minimal 2% dari total penduduk. Dan kenyataannya Indonesia mempunyai rasio hanya sebesar 1,65%.

Indonesia termasuk negara dengan rasio paling rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Singapura rasionya sebesar 7%, Malaysia 5%, dan Thailand 3%. Apalagi, kalau dibandingkan dengan rasio China yang mencapai 14%. Entah apa yang salah, padahal SDA kita berlimpah. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi sapi perah negara-negara lainnya.

Jika kita lihat di beberapa kota di Indonesia yang memiliki potensi UMKM, di Bandung misalnya. Jumlah pelaku usaha sebenarnya cukup banyak. Akan tetapi sangat sedikit sekali yang berminat mendirikan badan usaha formal untuk kelangsungan usahanya. Mereka lebih memilih menjadi penjahit, menjadi pengrajin dalam skala home industri.

Ini nyata, bukan sekedar cerita, apalagi dongeng pengantar bocah menjelang tidur. Setelah saya sendiri merasakan langsung terjun kedalam bisnis UMKM. Memang alasan para pengusaha lokal tidak dapat disalahkan. Mengapa demikian?

Pertama, untuk membuat badan usaha legal prosesnya sangat berbelit-belit. Mulai dari kelengkapan administratif level RT/RW, kelurahan sampai dengan kecamatan tidak bisa ditempuh dengan mudah. Bukan hanya itu, dalam hal biaya pun ternyata memakan nominal yang lumayan besarnya. Jika dihitung rata-rata, dari pembuatan  akta notaris, perijinan kelurahan/desa, SKD, TDP dan SIUP membutuhkan biaya sekurang-kurangnya 7 juta rupiah.

Kedua, bank BUMN tak ubahnya seperti rentenir yang hanya memikirkan keuntungan bunga setiap kali akan mengucurkan kredit dana usaha kepada pelaku UMKM. Padahal, sebagai BUMN sudah selayaknya mensinergikan antara kebijakan perbankan dengan program pemerintah dalam hal pemberdayaan pengusaha lokal. Tak terlalu sulit bagi saya membedakan antara Bankir BUMN dan banci. Ketakutan dan kekhawatiran dalam mengucurkan dana kredit lebih mendominasi isi kepala mereka daripada upaya membina dan mendukung kemajuan pengusaha lokal.

Ketiga, ketika pelaku usaha sudah mendaftarkan bisnisnya secara legal, maka bersiaplah transfusi tahunan kepada lembaga penghisap darah. Pajak yang dibayarkan tidak sebanding dengan upaya pemerintah dalam membenahi infrastruktur yang akan menyokong usaha para pelaku UMKM. Selain itu, proses pembayaran pajak juga ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank) menilai sistem pembayaran pajak di Indonesia sangat rumit

Keempat, monopoli perusahaan besar terhadap UMKM dalam hal regulasi bisnis terasa begitu mencekik. Coba saja Anda lihat, ketika UMKM melakukan konsinyasi barang ke supermarket, tempo pembayaran barang bisa membutuhkan lebih dari tiga bulan. Kalau sudah begini, jelas sudah bahwa UMKM-lah yang mensubsidi perusahaan besar.

Berbagai faktor tersebut memiliki peran yang sangat besar dalam melemahkan iklim wirausaha di Indonesia. Perlu ada upaya lebih serius lagi dari pemerintah untuk meningkatkan rasio minimal 2% jumlah wirausahawan terhadap jumlah penduduk. 

Proses pembuatan badan usaha hendaknya dibuat semudah mungkin agar para pelaku usaha masing-masing dapat memiliki legalitas usahanya dari negara. Badan usaha ini nantinya akan menjadi data bagi pemerintah dalam melakukan pembinaan dan pelatihan. Bukan sebatas bahan untuk dijadikan 'sapi perah' saja.

Bank BUMN lebih aktif lagi dalam mengedepankan dukungan terhadap pengusaha lokal. Lebih berani dalam mengucurkan kredit usaha UMKM dengan bunga yang wajar. Pertimbangan kredit bukan hanya melihat faktor kesehatan bisnis UMKM. Pengusaha pemula yang memiliki potensi baik harus didukung secara intensif melalui pelatihan dan pengawasan. 

Kalau bank BUMN beraninya mengucurkan kredit kepada perusahaan besar, lantas apa bedanya dengan bank swasta yang money oriented. Kalau Bank BUMN hanya berani mengucurkan kredit kepada perusahaan yang sudah berjalan, lantas bagaimana nasib benih-benih pengusaha lokal? Akankah terus tumbuh atau layu sebelum berkembang.

Optimalkan pajak untuk pembangunan infrastruktur penunjang usaha daerah. Agar pelaku usaha UMKM memiliki akses jalan yang cepat, biaya transportasi yang murah dan mudah. Pemerintah bukan hanya bisa menengadahkan tangan melalui SPT tahunan. Sudah selayaknya pajak digunakan untuk meningkatkan pembangunan yang merata. 

Pemerintah juga hendaknya dapat mengendalikan regulasi kemitraan antara perusahaan besar dengan UMKM. Regulasi tersebut harus memihak terhadap kemajuan dan pengembangan pengusaha lokal. Karena hanya pemerintahlah yang memiliki otoritas optimum untuk menekan perusahaan besar. 

Saya optimis jika keempat faktor tadi berhasil ditekan dan dibenahi sesegera mungkin, merupakan suatu keniscayaan bahwa dalam waktu relatif cepat, iklim usaha di negara ini semakin sehat dan subur. Bukan hanya untuk UMKM tapi juga untuk para investor. Semoga.

sumber:

https://www.ipotnews.com
http://www.seputarukm.com/idealnya-jumlah-wirausaha-2-dari-total-penduduk/
http://indonesianreview.com/daniel-rudi/sulitnya-menjadi-pengusaha-di-indonesia

4 Cara Ampuh Bagi Pebisnis Dalam Mengusir Kejenuhan

cara mengatasi rasa jenuh dalam bisnis

Akan tiba fase dimana seseorang mengalami kejenuhan yang terasa begitu menggumpal di kepala. Mungkin pekerjaan Anda setiap hari berhadapan dengan laptop atau PC selama 8 jam lamanya. Menulis email dan mengirimkannya kepada klien bisnis. Memeriksa laporan keuangan harian dan mingguan ditambah harus melakukan validasi terhadap kondisi real perusahaan. Setiap hari harus mengulangi pola kerja yang sama. Kalau sudah begini, senyuman bisa menjadi satu hal yang langka pada diri Anda.

Hari-hari yang dilalui terasa sama, udara yang dihirup pun masih sama pengapnya. Anda sama sekali tidak mendapatkan suasana baru dalam menjalani aktivitas bisnis selama ini. Kehidupan Anda terasa monoton, semuanya bisa ditebak. Seperti halnya Anda menonton film dengan judul yang sama berkali-kali setiap harinya. Anda hafal dengan jalan ceritanya, bahkan sudah hafal dengan dialog yang diucapkan aktor di film tersebut. Tak ada lagi bagian film yang membuat penasaran dan membuat Anda menantikan bagaimana cerita selanjutnya.

Kondisi ini biasanya dialami oleh owner/founder yang bisnisnya sudah berjalan auto pilot. Memiliki karyawan yang menjalankan sistem sesuai standar operasional kerja yang sudah ditentukan. Kejenuhan kerap kali menghinggapi mereka. Apakah ini juga terjadi kepada Anda sekarang?

Jika iya, berikut ini 4 langkah yang harus Anda lakukan untuk menghilangkan kejenuhan dan menumbuhkan kreatifitas baru dalam bisnis Anda. Selamat membaca.

1. Berhenti Sejenak, Berliburlah.


Berjalan jalan adalah cara yang paling mudah, namun jika Anda punya waktu, lakukanlah hal yang berbeda,  seperti pergi ke museum atau lakukan hal lain yang dapat menstimulus pikiran dan indera  Anda untuk menerima hal baru. Dan jangan lupa untuk memperhatikan pola tidur, jangan pernah menganggap remeh manfaat dari tidur.

Akan lebih baik lagi jika Anda membeli tiket pesawat atau kereta api mengunjungi tempat-tempat alami yang akan menyegarkan pandangan dan fikirian Anda. Alam selalu menawarkan inspirasi dan kesegaran tiada henti. Disana Anda bisa menginap beberapa hari, tanpa harus membicarakan masalah pekerjaan sekalipun. Jika pergi keluar kota tidak memungkinkan, Anda bisa memilih melakukan wisata kuliner di sekitar tempat Anda tinggal. Habiskan waktu Anda untuk bersantai bersama sahabat atau keluarga.

2. Ikuti Seminar


Mengikuti seminar-seminar yang berkaitan dengan bisnis Anda sangat bagus dalam memancing inspirasi dan kreatifitas. Sebelum Anda mengisi kepala dengan pemahaman baru, kosongkan terlebih dahulu isi kepala lama Anda agar mudah menyerap ide yang lebih fresh dan inovatif. Selain itu, dengan mengikuti seminar Anda akan bertemu dengan realsi baru, yang mungkin memiliki bisnis serupa dengan Anda. Bertukarlah kartu nama, jalin komunikasi dengan orang-orang baru.

Lepaskan title atau jabatan Anda ketika di kantor. Jadilah orang biasa layaknya orang yang ingin mencari ilmu. Jangan terkekang dengan gengsi ketika harus berinteraksi dengan peserta seminar lainnya. Lagi pula, Anda mengikuti seminar bukan untuk menguji kehebatan dan berdebat dengan pemateri kan? Sekali lagi, akan lebih baik jika Anda membuka pikiran dan membiarkan informasi baru masuk kemudian bersemayam di kepala Anda.

3. Silaturahmi Ke Sahabat Lama


Mungkin Anda pernah mendengar bahwa dengan kita memperpanjang jalinan silaturahmi akan memperluas juga rejeki. Ini sudah dibuktikan dan dirasakan oleh banyak orang. Bukankah di setiap urusan bisnis pada dasarnya akan terjalin ikatan silaturahmi antara Anda dengan klien? Nah sekarang coba dibalik. Anda utamakan silaturahmi tanpa harus berbasis transaksi. Bisa dengan mengunjungi sahabat lama atau atau teman sekolah Anda waktu SD yang berada di desa.

Luangkan waktu untuk sekedar bernostalgia tentang kehidupan masa kecil. Fase dimana saat itu Anda sedang bertumbuh, dan masalah terberatnya hanyalah PR matematika saja. Tidak ada beban fikiran omset, tidak ada masalah target penjualan seperti saat ini. Sahabat lama akan memberikan banyak cerita. Dan dari sahabat lama, Anda akan menemukan kembali inspirasi dari cerita lama yang terbarukan.

4. Lakukan Hobi Anda


Apa hobi Anda? 
Apakah Anda termasuk orang yang memiliki banyak hobi?

Luangkan waktu untuk melakukan kegemaran yang selalu membuat Anda tersenyum lepas dan tertawa ketika melewatinya. Menurut beberapa ahli yang mendalami kreativitas, untuk mendapatkan suatu ide, maka Anda harus menjernihkan kepala Anda beberapa saat dari tekanan dan kepenatan bisnis. Jika bernyanyi adalah salah satu hobi Anda, pergilah ke tempat-tempat karaoke keluarga untuk menyanyikan lagu-lagu favorit Anda.

Saya @onino99 senang berbagi dengan Anda.

Inilah Investor Terbesar Para Pengusaha di Dunia

investor paling besar

Investor adalah orang perorangan atau lembaga baik domestik atau non domestik yang melakukan suatu investasi (bentuk penanaman modal sesuai dengan jenis investasi yang dipilihnya) baik dalam jangka pendek atau jangka panjang. Keberadaan investor menjadi faktor penting perjalanan bisnis Anda. Secara langsung maupun tidak, mereka bisa menjadi penentu maju atau tidaknya suatu bisnis. Para pengusaha sangat memahami pentingnya seorang investor loyal yang dengan kekuatan penuh selalu siap menopang bisnisnya.

Sekarang mari kita pertanyakan, siapakah investor terbesar dalam bisnis Anda?

Disadari atau tidak kita sering kali justru melupakan keberadaan investor terbesar yang telah lama ada. Malah lebih sibuk mengurusi investor kecil yang perannya hanya dalam skala kecil saja. Kita sering kali lupa memberikan report bulanan dan tahunan kepada investor terbesar tersebut.

Siapakah dia?

Siapakah investor terbesar yang sudah sangat berjasa dalam bisnis Anda?

Dia adalah kedua orang tua Anda, Ibu dan Ayah.

Saya ulangi sekali lagi, investor terbesar dalam bisnis dan hidup Anda saat ini adalah kedua orang tua.

Mengapa saya katakan demikian?

Coba Anda bayangkan, bisnis apapun yang telah Anda jalani dan miliki saat ini tentu saja tidak mungkin akan ada jika seorang Ibu gagal saat melahirkan Anda ke dunia ini. Setelah 9 bulan lamanya mengandung Anda di dalam rahim sucinya, seorang Ibu berjuang mempertaruhkan hidup dan mati saat melahirkan. Dan saya kira Anda juga tahu, bahwa tidak ada seorang ibupun di dunia ini yang melahirkan tanpa rasa sakit yang teramat sangat.

Belum lagi setelah melahirkan, ibu dengan ikhlas memberikan supplai ASI kepada Anda yang setiap saat merengek saat lapar tanpa harus menunggu Anda menandatangani perjanjian kerjasama (MOU) layaknya supplier dan distributor. Dia selalu rela ketika tidurnya terganggu karena rengekan Anda tengah malam yang ingin menyusu.

Anda bisa berfikir, Anda dihargai, Anda mengerti mana untung dan mana rugi tidak lepas dari hasil pendidikan yang sudah ditanamkan seorang Ayah kepada anaknya. Anda bisa membeli mainan kesukaan, bisa berbusana keren layaknya tren anak muda yang sedang berkembang saat itu, dan bisa merasakan bangku sekolah hingga akhirnya menyandang gelar akademik, semua itu tak lepas dari peran Ayah sebagai investor.

Tapi.. coba Anda fikirkan, saat kini Anda beranjak dewasa, apakah kita sudah memperhatikan kedua investor tadi? Rutinkah kita memberikan return kepada mereka?

Tidak sedikit pengusaha yang saat bisnisnya mulai berkembang malah lupa dengan kedua investor tadi. Justru lebih memperhatikan investor kecil yang perannya sebatas menitipkan lembaran rupiah untuk bisnis yang Anda jalani. Saya harap Anda tidak termasuk kedalam tipe orang yang seperti itu.

Apakah Anda pernah mengabaikan SMS atau telepon dari orang tua lantaran sedang meeting di coffee corner dengan investor lain atau klien bisnis Anda?

Mungkin Anda akan berkata demikian ketika orang tua menelepon :

"Maaf Ayah, saya sedang meeting dengan klien!" Kemudian menutup handphone dan memasukkannya kembali kedalam saku kemeja Anda.

Padahal seharusnya, ketika orang tua menelepon, katakan kepada klien Anda:

"Maaf, saya minta waktu sebentar, orang tua saya menelepon!"

Hei.. ini bukanlah hal yang berlebihan kan? Bukankah orang tua Anda adalah investor terbesar? Maka sudah selayaknya memprioritaskan mereka terlebih dahulu dari pada segelintir orang pemilik saham perusahaan milik Anda. Kedua orang tua adalah pemilik saham terbesar atas jiwa dan raga Anda.

Bahkan kedua orang tua Anda adalah investor yang paling mulia, mereka tak memikirkan persentase ROI (return of investments) ketika pertama kali menanamkan investasi kepada diri Anda. Merekalah investor seumur hidup yang tidak akan pernah menarik sahamnya atas diri Anda. Mereka berinvestasi dengan cinta dan kasih sayang tanpa batas.

Berapa kali dalam sebulan Anda menjumpai mereka meski hanya sekedar peluk dan jabat tangan? Berapa kali dalam setahun Anda mempresentasikan diri Anda kepada mereka, dan kemudian menyerahkan bagi hasil 'usaha' secara tunai dan non tunai?

Mungkin saja sekarang Anda berfikir bahwa diri Anda bukan lagi anak kecil, Anda sudah beranjak dewasa dan mulai menata hidup mandiri. Tapi harus Anda tahu bahwa doa orang tua akan terus mengalir kepada anak-anaknya. Tiada sedikitpun penghalang antara langit dan bumi ketika malaikat menghantarkan doa yang dipanjatkan oleh orang tua.

Anda memang sudah tidak lagi membutuhkan ASI, sudah tidak lagi membutuhkan materi untuk biaya hidup. Tapi jangan lupa, Anda masih membutuhkan nasehat tulus dan doa ikhlas dari Ayah dan Ibu. Karena kedua hal itu tidak bisa Anda dapatkan dari orang lain. Anda bisa mengajukan kredit untuk peminjaman modal kepada Bank, tapi Anda tidak bisa mengajukan pinjaman doa dan nasehat.

Apakah saat ini Anda termasuk pengusaha yang masih lalai terhadap investor utama?

Selagi nafas kedua orang tua masih berhembus, sebisa mungkin secepat mungkin sebanyak mungkin berikan mereka perhatian. Bersegera menyenangkan hatinya, tanya kepada mereka hal apa yang saat ini sedang sangat mereka inginkan. Berusahalah untuk mewujudkannya satu persatu. Karena usia mereka semakin tua, kondisi kesehatan mereka semakin menurun. Jangan sampai Anda terlambat dan menyesal dikemudian hari.

Akhirnya, saya akhiri artikel ini dengan sajian satu video mengharukan untuk Anda yang masih memiliki Ayah dan kelak akan menjadi Ayah.

Masih Menunggu Lowongan Kerja? Bertobatlah!

cerita inspirasi bisnis untuk pencari kerja

LOWONGAN KERJA itu semakin dicari semakin sulit ditemukan bahkan tidak ada. Lhaa iyaa.. kalau semua orang mencari kerja, lalu siapa yang membuka lapangan kerja?? :D

Ada ilustrasi LOGIS tentang ini, silahkan Anda simak.

Selepas lulus kuliah, Ali rajin mencari info lowongan kerja yang sesuai dengan potensi akademik yang dimilikinya. Tapi sementara menunggu panggilan test dan interview, Ali tidak merasa malu buat mangkal ngojeg di kampungnya, sambil jualan gorengan di pangkalan ojeg tersebut. Motornya dapet pinjem, dan gorengan itu juga bukan Ali yang ngemodal, melainkan tetangganya.

Pola hidup Ali, setiap pagi setelah solat subuh mempersiapkan berkas lamaran utk dimasukkan ke perusahaan dan instansi yg membuka lowongan. Jam 7 pagi Ali sudah beredar entah ke kantor pos atau membawa lamaran langsung ke tujuan. Dan selepas duhur Ali ngojeg sambil jualan gorengan hingga sore hari.

Sistem perojegan sudah diatur diantara sesama tukang ojeg. Para pengojeg harus antri bergiliran. Dalam 1 hari masing2 rata-rata kebagian 5-7 kali putaran. Tukang ojeg yg lain dalam menunggu giliran biasanya bermain kartu atau ngisi TTS. Sedangkan Ali? meski blm mendapat giliran tetep aja udh dapet duit dr jualan gorengan.

Penghasilan dari ojegnya ada yang disisihkan utk menambah varian gorengan dan menambah kategori minuman seperti kopi dan minuman dingin. Dan bahkan ada satu varian gorengan baru yg ternyata sangat laris, yaitu pisang coklat. Bukan cuma para tukang ojeg yg membeli, tapi orang-orang yang lewat juga.

Udah lewat 3 bulan, belum juga ada kabar panggilan test seleksi kerja. Ali tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Jualan gorengan yg dijalankan semakin memiliki banyak pelanggan. Sampai-sampai Ali meminta tetangganya yang kebetulan baru lulus SMA dan lagi nganggur untuk membantu dirinya Jualan dengan sistem bagi hasil.

Saat itu dalam sehari Ali sudah bisa menjual 110-130 gorengan. Belum lagi jika dirinya mendapatkan pesanan untuk kantor-kantor desa, atau pesanan salah satu warga yang akan menyelenggarakan acara syukuran dll. Ali pernah berhasil sampai menjual 900 gorengan dalam sehari. Kini aktivitas ngojegnya menjadi terganggu. Karena ketika ada banyak pesanan, Ali terkadang harus menggoreng seharian. Sehingga jatah ngojegnya diberikan kepada orang lain secara bergantian.

Bulan demi bulan telah berlalu, akhirnya pada bulan ke 6 ada panggilan test dari kantor notaris. Ali tersenyum lebar meskipun belum tentu diterima, dia Ali tetep bahagia krn penantian panjangnya telah terjawab. Ali berhasil melewati serangkaian prosedur test kerja, hingga membawa dirinya utk interview langsung dgn HRD dan perwakilan direksi.

Ali terkejut ketika dirinya ditawarkan gaji dalam sebulan sebesar 4 juta rupiah. Dia memberanikan dirinya untuk melakukan nego agar gaji untuknya lebih tinggi lagi, tapi ditolak mentah-mentah. Bahkan jawaban yang diterima oleh Ali sangat tidak mengenakkan. "Kalau mau silahkan, kalau enggak pun gak masalah. Masih banyak kok yang butuh pekerjaan", begitu kata mereka.

Dengan tegas akhirnya Ali menolak pekerjaan itu. Yaaahhh wajar saja sih menolak, usaha gorengan Ali saja yang saat ini sudah memiliki 4 gerobak dan 7 orang karyawan, dalam sebulan bisa menghasilkan keuntungan bersih rata-rata 8 juta rupiah. Akhrinya Ali memilih bertobat mengejar lowongan kerja, dan memilih untuk mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan koneksi teman-teman saat kuliahnya dulu.

Proses yang dijalani Ali bukan hanya berharap peluang dari panggilan test kerja. Ali memaksimalkan waktu yang dimilikinya agar tidak terbuang percuma untuk menjalankan peluang yang ada lalu menciptakan peluang yang lebih besar lagi.

Saudaraku, menjadi karyawan sama sekali tidak salah, yang salah itu MEMBUANG WAKTU. Ketika kita hanya berpikir bahwa satu-satunya sumber rejeki adalah dari status kita sebagai pekerja. Jika yg kita lakukan HANYA berburu lowongan, sesungguhnya ada waktu yang seharusnya kita gunakan utk BEKERJA dan BERTUMBUH tapi terbuang percuma.

Kisah Nyata Abdurrahman Bin Auf Memulai Bisnis Menjadi Reseller

inspirasi bisnis islami abdurrahman bin auf

Abdurrahman bin Auf merintis usaha dengan memulai menjadi reseller. Ia menjalankan bisnis dari nol, tanpa modal materi. Padahal saat itu ada seorang sahabatnya menawarkan setengah harta yang dimiliki untuk dihibahkan kepadanya agar dijadikan modal usaha, tanpa harus dikembalikan dan bahkan bila usahanya rugi pun tidak ada konsekuensi sama sekali. Namun, Abdurrahman bin Auf hanya mendoakan kebaikan sahabatnya, tanpa menerima pemberiannya. Abdurrahman bin Auf hanya meminta ditunjukkan lokasi pasar terdekat di Madinah.

Lalu apa yang dilakukannya? Abdurrahman bin Auf mendatangi salah seorang pedagang di pasar tersebut kemudian membeli produknya dengan cara tidak tunai. Kemudian dia menjualnya kembali (re-sell) dengan melebihkan dari harga modal sebagai keuntungannya. Cara seperti ini terus menerus dilakukannya dengan gigih, dia memulai menjalani bisnisnya sebagai reseller yang jujur dan terpercaya di pasar Madinah. Hingga dalam waktu yang relatif singkat, Abdurrahman bin Auf sudah bisa membeli emas sebesar biji kurma yang dijadikan mahar untuk menikahi istrinya.

Bisnis yang dijalankan Abdurrahman bin Auf terus berkembang pesat dan pada saat itu dirinya sudah termasuk sebagai saudagar terkaya di Madinah. Hingga pada akhir hayatnya, Abdurrahman bin Auf wafat dengan meninggalkan harta kurang lebih 3 juta dinnar atau sekitar 5 trilyun untuk ahli warisnya.

Allahu Akbar!

Apa yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf sangat menginspirasi bagi saya dan Anda yang akan atau sedang merintis usaha. Dari kisah diatas jelaslah sudah, bahwa modal utama memulai bisnis bukanlah uang melainkan kepribadian yang baik (ahlak mulia). Uang bisa Anda dapatkan dari pinjaman tunai seorang sahabat atau investor. Tapi modal ahlak mulia hanya bisa Anda dapatkan dari diri Anda.

Banyak diantara kita yang berfikir bahwa untuk memulai bisnis diperlukan modal uang yang tidak sedikit, akibatnya menunda keinginan untuk memulai bisnis. Padahal justru dengan modal keinginan dan reputasi diri itulah Abdurrahman bin Auf telah  membuktikan kesuksesannya. Kepercayaan lebih berharga ketimbang modal materi. Coba Anda bayangkan, sulit rasanya bagi Abdurrahman bin Auf membeli barang di pasar dengan tidak tunai jika dirinya tidak bisa dipercaya oleh si penjual. Jujur dan dapat dipercaya, inilah yang menjadi kunci sukses bisnisnya yang diawali sebagai reseller.

3 Faktor yang Dapat Meningkatkan Kinerja Karyawan Selain Uang

cara memotivasi kerja karyawan

Karyawan memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan bisnis Anda. Karyawan bukanlah pembantu bisnis Anda akan tetapi sudah menjadi bagian dari aset bisnis yang harus terus dipelihara.

Apabila Anda ingin potensi karyawan tercurah optimal saat bekerja, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memberikan apa yang menjadi hak mereka setepat mungkin jangan sampai telat. Bayarkan gaji sesuai dengan beban kerja mereka. Jika ada pekerjaan yang mengharuskan lembur, berikan upah lembur yang seimbang. Ketepatan dan perhatian Anda terhadap karyawan akan membuat ikatan internal yang solid antara karyawan dan pihak manajemen.

Sebagai seorang pengusaha, perlu Anda tahu bahwa perilaku karyawan dapat diubah melalui penguatan positif, sehingga karyawan akan merasa bahagia jika ia dianggap mampu berkinerja tinggi. Ketika Anda memberi umpan balik yang tepat untuk rekan kerja Anda, Anda dapat mengubah kualitas hidup mereka. Kemampuan memotivasi karyawan adalah salah satu faktor penting yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha.

Untuk memotivasi karyawan bukan hanya dengan uang, tapi juga support secara emosional. Banyak perusahaan yang tidak memperhatikan faktor emosional, sehingga keterikatan secara emosional antara karyawan dan manajemen menjadi rapuh dan akhirnya dapat mengganggu stabilitas bisnis Anda.

Menurut Dan Pink, ada tiga faktor yang bisa meningkatkan performa karyawan selain uang, yaitu:

1. Otonomi

Setiap orang memiliki keinginan untuk menjadi dirinya sendiri. Manajemen yang mengesampingkan keinginan itu dan memperlakukan karyawan seperti robot merupakan tindakan yang akan mengkerdilkan identitas diri dalam diri mereka.

Anda hanya perlu menyampaikan point-point apa saja yang harus dikerjakan oleh karyawan. Selanjutnya biarkan kreatifitas mereka muncul dalam menyelesaikan pekerjaan. Buatlah mereka bangga dengan hasil kerjanya. Jangan sampai mereka bekerja keras hanya sebatas mengikuti perintah Anda sebagai pemilik bisnis.

Klik untuk Join Grup Whatsapp : Media Promosi dan Sharing Bisnis

2. Menjadi Ahli dan Professional

Setiap orang ini ingin mendapatkan yang lebih baik atas hasil yang mereka kerjakan. Mengatasi tantangan atau mencari solusi untuk suatu masalah dapat memotivasi karyawan untuk berfikir kreatif dan fokus terhadpa solusi. Selain itu akan membuat skill yang dimilikinya semakin terasah dan akan terus terlatih hingga ia mencapai level professional dalam bekerja.

3. Bangunkan Cita-cita

Mungkin hal yang paling memotivasi untuk karyawan adalah menumbuhkan rasa satu cita-cita atas hidupnya dan cita-cita perusahaan. Cobalah untuk utarakan dengan jelas visi dan misi perusahaan. Katakan kepada mereka, bahwa visi itu merupakan cita-cita bersama yang harus diwujudkan melalui kerjasama yang baik antar setiap elemen.

Baca Juga: Ternyata..! Semakin Benci Uang Semakin Kaya Raya. Kok Bisa?